Kamis, 02 April 2015

MEMBANGUN KEPUASAN PELANGGAN MELALUI KUALITAS PELAYANAN



1.      Nilai Pelanggan
Kotler dan Keller (2009: 14) menyatakan bahwa nilai pelanggan merupakan kombinasi kualitas, pelayanan, harga dari suatu penawaran produk . Nilai terhantar pada pelanggan adalah selisih antara jumlah nilai bagi pelanggan dan jumlah biaya dari pelanggan, dan jumlah nilai bagi pelanggan adalah sekelompok keuntungan yang diharapkan pelanggan dari barang atau jasa tertentu.

Nilai pelanggan atau nilai customer atau customer value adalah selisih antara manfaat yang diperoleh customer dari suatu produk atau jasa dengan upaya dan pengorbanan yang dilakukannya untuk mendapatkan dan menggunakan produk itu.
Suatu produk atau jasa yang dibeli customer dari perusahaan semakin memuaskan jika customer itu mendapatkan nilai (value) yang tinggi. Bagi customer, nilai (value) atau nilai produk atau jasa yang ditawarkan suatu perusahaan memiliki dua dimensi:
  • Kinerja atau fitur produk dibandingkan dengan produk sejenis yang ditawarkan pesaing perusahaan.
  • Harga atau cost. Dengan semakin banyaknya produk atau jasa sejenis yang bersaing di pasar, cost atau pengorbanan memiliki arti yang lebih luas, tidak hanya sebatas harga beli suatu produk. Sebagai contoh, kemudahan untuk mengoperasikan, ketersedian suku cadang, layanan pascapembelian, dan biaya pemeliharaan, merupakan unsur-unsur pengorbanan yang diperhitungkan oleh customer, selain harga beli produk.
Dengan kata lain, customer berada dalam posisi "bisa memilih". Istilah customer value sangat populer dalam dunia bisnis masa kini yang sangat kompetitif. Customer value semakin penting untuk dipertimbangkan oleh perusahaan dan menjadi bagian integral strategi perusahaan, khusurnya dalam strategi pemasaran produknya.Secara historis, dalam ilmu ekonomi konsep ini dikenal sebagai utility barang dan jasa.

2.      Kepuasan

Kepuasan Total Pelanggan

Apakah pembeli akan puas setelah melakukan pembelian, tergantung pada kinerja tawaran dalam pemenuhan harapan pembeli. Secra umum, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan. Jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang.
Walaupun perusahaan yang berpusat pada pelanggan berupaya untuk menciptakan kepuasan pelanggan yang tinggi dengan menurunkan harganya atau meningkatkan jasanya, kemungkinan hasilnya adalah laba yang lebih rendah. Perusahaan mungkin mampu meningkatkan profitabilitas dengan sarana lain daripada meningkatkan kepuasan (misalnya, dengan meningkatkan proses manufakturing atau melakukan  investasi lebih banyak pada litbang). Juga, perusahaan memiliki banyak pihak berkepentingan, termasuk karyawan, penyalur, pemasok, dan pemegang saham. Mengeluarkan lebih banyak biaya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan mungkin mengalihkan dana dari meningkatkan kepuasn “mitra” yang lain. Akhirnya, perusahaan harus beroperasi berdasarkan filosofi bahwa ia mencoba untuk menyerahkan satu tingkat kepuasan tinggi dengan tunduk pada penyerahan tingkat kepuasan yang dapat diterima kepada pemercaya lain, dengan adanya sumber daya totalnya.
Bagaimana para pembeli membentuk ekspektasi mereka dengan memperhatikan pengalaman pembelian mereka sebelumnya, nasihat teman dan kolega, dan janji serta informasi para pemasr dan pesaingnya. Jika para pemasar meningkatkan harapan terlalu tinggi, para pembeli cenderung akan kecewa. Sebaliknya, jika perusahaan menetapkan harapan terlalu rendah, maka para pembeli tak akan tertarik (walaupun mereka yang benar-benar membeli akan terpuaskan). Beberapa perusahaan yang paling berhasil saat ini senantiasa meningkatkan harapan harapan dan memberikan kinerja yang memenuhi harapan itu.
 
v  Mengukur Kepuasan

Banyak perusahaan secara sistematik mengukur kepuasan pelanggan dan fakor-faktor yang membentuknya. Sebagai contoh, IBM menelusuri bagaimana pelanggan yang puas berlaku terhadap setiap tenaga penjual IBM ketika bertemu, dan membuat ini menjadi satu faktor dalam kompensasi masing-masing tenaga penjual.
Sebuah perusahaan dikatakan bijaksana kalau mengukur kepuasan pelanggannya secara teratur, karena kunci untuk mempertahankan pelanggan adalah kepuasan. Kaitan antara kepuasan pelanggan dan kesetiaan pelanggan tidak bersifat proporsional. Andaikan kepuasan pelanggan diberi peringkat dengan skala satu sampai lima, pada level kepuasan pelanggan yang sangat rendah (level satu), para pelanggan cenderung menjauhi perusahaan dan menyebarkan cerita jelek tentang perusahaan tersebut. Pada level dua sampai empat, pelanggan agak puas, tetapi masih merasa mudah untuk beralih ketika tawaran yang lebih baik muncul. Pada level lima, pelanggan cenderung membeli ulang dan bahkan menyampaikan cerita pujian tentang perusahaan.
Bagi perusahaan yang berfokus pada pelanggan, kepuasan pelanggan adalah sasaran sekaligus alat pemasaran. Dewasa ini, perusahaan perlu secara khusus memerhatikan tingkat kepuasan pelanggan, karena internet menyediakan alat bagi para konsumen untuk menyebarkan cerita buruk—dan juga cerita baik—kepada orang lain di dunia.

1.      Memberi Nilai dan Kepuasan Pelanggan

Pemasaran mencakup juga kepuasan atas kebutuhan dan keinginan konsumen. Tugas dari segala jenis bisnis adalah menyerahkan nilai pelangganuntuk mendapatkan laba. Dalam ekonomi yang semakin hiperkimpetitif, dengan semakin banyak pembeli rasional yang berhadapan dengan banyak sekali pilihan, sebuah perusahaan dapat menang hanya dengan menyetel dengan baik proses penyerahan nilai serta memilih, menyediakan, dan mengomunikasikan nilai superior.

v  Nilai Yang Dipikirkan Pelanggan

Bagan 1 Penentu-penentu Nilai yang Diberikan ke Pelanggan


Sekarang konsumen lebih terdidik dan terinformasi daripada dahulu, dan mereka memiliki alat untuk menguji klaim-klaim perusahaan dan mencari alternatif-alternatif unggul. Bagaimana akhirnya mereka menetukan pilihan? Dalam keterbatasan biaya pencarian dan keterbatasan pengetahuan, mobilitas, dan pendapatan, pelanggan cenderung menjadi pemaksimal nilai. Pelanggan mengestimasikan tawaran mana yang akan menyerahkan nilai yang paling dirasakan dan bertindak berdasarkan estimasi tersebut (Bagan 1)
Nilai yang dipikirkan pelanggan (CPV—customer perceived value) adalah selisih antara evaluasi calon pelanggan atas semua manfaat serta semua biaya tawaran tertentu dan alternatif-alternatif lain yang dipikirkan. Nilai pelanggan total (total customer value) adalah nilai moneter tang dipikirkan atas sekumpulan manfaat ekonomis, fungsional, dan psikologis, yang diharapkan oleh pelanggan atas tawaran pasar tertentu. Biaya pelanggan total (total customer cost) adalah sekumpulan biaya yang harus dikeluarkan pelanggan untuk mengevaluasi, mendapatkan, menggunakan, dan membuang tawaran pasar tertentu, termasuk biaya moneter, waktu, energi dan psikis.

v  Proses Pemberian Nilai
Pandangan tradisional tentang pemasaran adalah perusahaan membuat sesuatu dan kemudian menjualnya. Dalam pandangan ini, pemasaran mengambil tampat dalam paruh kedua dari proses. Perusahaan mengetahui apa yang harus dibuat dan pasar akan membeli cukup banyak unit untuk menghasilkan laba. Perusahaan yang menganut pandangan ini memiliki peluang terbaik untuk berhasil dalam ekonomi yang ditandai dengan kekurangan barang dimana konsumen tidak rewel tentang mutu, fitur, atau gaya—misalnya, barang-barang kebutuhan pokok dalam pasar yang sedang berkembang.
Akan tetapi, pandangan tradisional tentang proses bisnis tidak akan berfungsi dalam ekonomi dimana orang menghadapi terlalu banyak pilihan. Disana, “pasar massal” sesungguhnya terpecah menjadi sejumlah pasar mikro, masing-masing dengan keinginan, persepsi, pilihan, dan kriteria pembeliannya sendiri. Pesaing yang cerdas harus merancang dan menyerahkan tawaran untuk pasar sasaran yang ditetapkan dengan baik. Keyakinan ini ada pada inti pandangan baru tentang bisnis, yang menempatkan pasar pada awal perencanaan.
1.      Menarik dan Mempertahankan Pelanggan
Dewasa ini para pelanggan semakin sulit dipuaskan. Mereka lebih cerdas, lebi sadar harga, lebih menuntut, kurang memaafkan, dan didekatio oleh banyak pesaing dengan tawaran yang sama atau lebih baik. Tantangannya menurut Jeffrey Gittomer adalah bukan menghasilkan pelanggan yang puas; beberapa pesaing dapat melakukan itu. Tantangannya adalah menghasilkan pelanggan yang senang dan setia.
Ada dua cara utama untuk menguatkan retensi pelanggan. Pertama adalah mendirikan hambatan peralihan yang tinggi. Pelanggan kurang cenderung beralih ke pemasok lain bila ini mencakup juga biaya modal tinggi, biaya pencarian tinggi, atau kehilangan diskon pelaggan setia. Pendekatan yang lebih baik adalah menyerahkan kepuasan pelanggan yang tinggi. Ini menyulitkan pesaing untuk menawarkan harga lebih rendah atau bermaksud untuk beralih.
Sekarang lebih banyak perusahaan mengakui pentingnya memuaskan dan memepertahankan pelanggan. Pelanggan yang puas menetapkan modal relasi pelanggan. Jika perusahaan dijual, perusahaan yang membeli tidak hanya harus membayar pabrik dan perlengkapan serta nama merek, melainkan juga basis pelanggan yang diserahkan, jumlah dan nilai pelanggan yang akan melakukan bisnis dengan perusahaan baru. Di sini ada beberapa fokus menarik yang penting untuk mempertahankan pelanggan :
1.      Mendapatkan pelanggan baru bisa menghabiskan biaya lima kali lebih besar  daripada biaya yang tercakup dalam memuaskan dan mempertahankan pelanggan yang ada. Ia menuntut banyak usaha untuk membujuk pelanggan yang puas untuk beralih dari pemasok mereka yang sekarang.
2.      Rata-rata perusahaaan kehilangan 10% dari pelanggannya setiap tahun.
3.      Pengurangan 5% tingkat peralihan pelanggan dapat meningkatkan laba sebesar  25% sampai 85%, trgantung pada industri.
4.      Angka laba pelanggan cenderung meningkat selama masa hidup pelanggan yang bertahan.
Pemasar dapat dicirikan dengan dinamika pembelian yang panjang mereka dan seberapa mudah dan seringnya pelanggan dapat masuk dan keluar.
1.      Pasar yang sudah didapatkan secara permanen. Sekali pelanggan, tetap pelanggan (misalnya, perawat keluarga, dan jaminan, dan perawatan kesehatan).
2.      Pasar retensi sederhana. Pelanggan dapat hilang secara permanen setelah setiap periode, misalnya layanan keuangan telepon, TV kabel, jasa lainnya, atau langganan lainnya.
3.      Pasar migrasi pelanggan. Pelanggan bisa datang dan pergi, misalnya, katalog, produk konsumen, eceran, dan penerbangan.
Beberapa pelanggan pasti akan menjadi tidak aktif atau pergi. Tantangan perusahaan adalah mengaktifkan kembali para pelanggan yang tidak puas melalui strategi mendapatkan kembali pelanggan (win-back  strategies). Sering kali lebih mudah untuk menarik bekas pelanggan (karena perusahaan mengetahui nama dan riwayat mereka) daripada mendapatkan pelanggan baru. Kuncinya adalah menganalisis penyebab berpindahnya pelanggan melalui wawancara tentang kepergian pelanggan dan survei terhadap pelanggan yang hilang. Tujuannya adalah memenangkan kembali pelanggan yang memiliki potensi laba yang kuat.
5.      Total Quality Marketing

Agar berhasil dalam persaingan global, sangatlah penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kualitas barang dan jasa serta pelayanan. Akhir-akhir ini, perbaikan kualitas telah dijadikan tujuan strategi beberapa perusahaan di dunia, yang kemudian secara. integral dijadikan bagian dari budaya perusahaan. Perbaikan kualitas tersebut terangkum dalam Total Quality Management (TQM).

Secara filosofis, Total Quality Management (TQM), nilai-nilai dan kerja keras tidak hanya ditujukan untuk mempertahankan kualitas barang dan jasa tetapi juga untuk mempertahankan kualitas usaha dan pelayanan kepada pelanggan. Kunci utama dalam mengembangkan TQM justru. terletak pada perhatian khusus kepada pelanggan. Artinya,’ kualitas harus mencerminkan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

Bagaimana pelanggan menginterpretasikan kualitas? Berdasarkan hasil survei di Amerika Serikat, menurut Zimmerer (1996) ada lima macam komponen kualitas yang secara berurutan perlu diperhatikan, yaitu:
1)      Ketepatan (reliability), yaitu rata-rata kelalaian/pengabaian.
2)      Daya tahan (durability), yaitu berapa lama barang dan jasa tersebut dapat dipakai/ bertahan.
3)      Mudah digunakan (easy of use), yaitu barang dan jasa tersebut memberikan kemudahan untuk digunakan.
4)      Nama merek yang terkenal dan dipercaya (known and trusted brand name).
5)      Harga yang relatif rendah (low price).

Barang dan jasa yang cepat, tepat, hemat, sehat, kuat, dan terkenal merupakan prasyarat bagi perusahaan dalam mempertahankan kualitas. Barang dan jasa harus cepat dan tepat dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Selain itu, barang dan jasa itu harus tahan lama atau tidak mudah rusak dan mudah digunakan oleh siapa pun dan kapan pun.

Komponen lain dari kualitas yang tidak kalah pentingnya adalah harga yang murah dan merek yang terkenal. Merek yang terkenal dan harga yang terjangkau sangat menarik dan merangsang konsumen sekaligus mencerminkan kualitas yang dikehendaki konsumen.

Sedangkan di bidang jasa pelayanan, konsumen ingin melihat jasa perusahaan yang mencerminkan beberapa karakteristik sebagai berikut:
1)      jelas/nyata (tangibles), yaitu jelas ada fasilitas, ada peralatan dan ada orang yang melayaninya.
2)       Ketepatan (reliability), yaitu memenuhi apa yang dikatakan itu sesuai dengan apa yang dilakukan atau tepat janji dan tepat pelayanan.
3)       Ketanggapan (responsiveness), yaitu tanggap terhadap keinginan pelanggan.
4)      Terjamin dan penuh empati (assurance and empathy), yaitu menimbulkan sikap yang menyenangkan. Dengan kata lain, pelayanan itu harus cepat, tepat, hemat, sehat, dan nikmat. Artinya, ada garansi yang menimbulkan rasa aman dan senang.


6.      Menetukan kebutuhan Pelanggan
Salah satu hal penting dalam menentukan strategi marketing adalah mengetahui apa yang diinginkan oleh pelanggan. Mengetahui benar-benar secara riil bukan hanya berdasarkan asumsi yang dibangun oleh penjual. Dengan begitu produk yang dijual adalah benar-benar produk yang dibutuhkan pembeli, target pasar yang disasar sesuai dengan karakter produk kita. Dengan mengetahui apa yang diinginkan pembeli, orang akan membeli produk dan selanjutnya menjadi pelanggan. Jika pembeli sudah menjadi pelanggan, biaya pemasaran akan semakin murah. Untuk mengetahui keinginan calon pelanggan tersebut , harus dilakukan survey pasar sebelum launching produk.
Mengetahui keinginan pelanggan merupakan langkah yang cukup rumit dan penuh ketelitian. Karena berkaitan denga teknik pengambilan data, akurasi data dan keterampilan menganalisa data. Namun ada cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengetahui keinginan pelanggan terhadap sebuah produk. Yang intinya adalah mengetahui respon pelanggan terhadap sebuah produk yang aakan dijual. Berikut beberapa cara untuk mengetahui keinginan pelanggan:
1.      Bertanya kepada Pelanggan.
Cara sederhana ini banyak dilupakan orang dalam menjual sebuah produk, penjual begitu yakin dengan asumsinya bahwa yang diinginkan adalah sesuai yang dia pikirkan. Padahal belum tentu. Contoh sederhana dari ini adalah seperti tukang potong yang selalu menanyakan model seperti apa yang diinginkan sebelum memangkas rambut

2.      Jadilah Pelanggan Dari Bisnis Anda sendiri
Memposisikan diri sendiri seolah-olah anda adalah pelanggan bisnis anda sendiri, memberikan pemahaman sudut pandang jika anda adalah pelanggan. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan dari produk. Dengan begitu anda bisa menyesuaikan produk sesuai sudut pandang pelanggan.

3.      Fokus Group
Fokus Group adalah representasi dari pelanggan anda secara keseluruhan, mereka memiliki tugas untk mengdentifikasi berbagai keinginan dan kebutuhan pelanggan.

4.      Kuisinoner Dan Survey
Cara ini merupakan cara yang populer dilakukan untuk mengetahui keinginan pelanggan. Bentuk tertulis dari kuisioner dan survey ini merupakan cara yang dilakuka dengan menyebarnan kuisioner dan hasilnya dibuat analisa.

5.      Statistik Pelanggan
Anda bisa menganalisa apakah pelanggan anda puas terhadap produk yang dijual atau tidak dengan melihat statistik mereka. Apakah mereka terus membeli dari Anda atau menggunakan produk Anda atau hanya sekali saja. Jika mereka terus kembali dan berulang-ulang berarti produk sesuai dengan kebutuhan mereka, jika tidak maka perlu dipertanyakan kembali.

6.      Front Line Staff
Front Line staff merupakan orang-orang yang paling mengerti apa yang menjadi keluhan pelanggan. Jadikan Front Line staff sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan.
Bagaimanapun sebuah produk dijual adalah untuk memenuhi keinginan pembeli. Pembeli tidak hanya mendapatkan produk yang tidak berguna, meski itu baik. Tetapi juga membeli produk yang diperlukan, sehingga ia menjadi pelanggan yang terus menerus membeli produk kita.
7.      Menilai Persepsi dan Sikap Pelanggan

v  Persepsi Konsumen
Mengacu pada pendapat Assael (2001: 256), dimensi persepsi dibagi menjadi tujuh, yaitu:
1.      Kinerja
Melibatkan berbagai karakteristik operasional utama, misalnya karakteristik operasional mobil adalah kecepatan, akselerasi, sistem kemudi dan kenyamanan. Pelanggan mempunyai sikap yang berbeda dalam menilai atribut-atribut kinerja tersebut karena faktor kepentingan pelanggan berbeda satu sama lain.
2.      Pelayanan
Mencerminkan kemampuan toko dalam memberikan pelayanan kepada konsumen terkait dengan produk yang dipasarkan. Semakin baik pelayanan yang diberikan toko kepada konsumen, semakin baik pula penilaian konsumen terhadap image toko itu.
3.      Ketahanan
Mencerminkan daya tahan produk tersebut, apakah produk tersebut tahan lama atau tidak. Konsumen akan merasa nyaman dalam membeli suatu produk apabila produk tersebut telah benar-benar teruji dan tahan lama.
4.      Keandalan
Konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Jika konsumen melakukan pembelian suatu produk, kemudian melakukan pembelian berulang terhadap produk tersebut dan merasakan kepuasan yang sama atas kinerja produk itu, maka produk itu dikatakan mempunyai keandalan.
5.      Karakteristik produk
Fitur-fitur yang terdapat pada suatu produk yang dapat membedakannya dari produk pesaingnya, dan fitur tersebut bisa menjadi nilai lebih di mata konsumen. Misalnya, Yamaha Mio memiliki mesin dengan kapitas 115 cc yang tidak dimiliki motor lain, sehingga akan memberikan nilai lebih produk itu bagi konsumen.
6.      Kesesuaian dengan spesifikasi
Merupakan pandangan mengenai kualitas proses manufaktur sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji. Konsumen akan merasa dibohongi apabila produk yang mereka gunakan tidak sesuai dengan spesifikasi kualitas yang ditawarkan perusahaan, sehingga akan memberikan penilaian yang buruk badi produk tersebut.
7.      Hasil
Mengarah pada kualitas yang dirasakan yang melibatkan enam dimensi sebelumnya. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan “hasil akhir” produk yang baik maka kemungkinan produk tersebut tidak akan mempunyai atribut kualitas lain yang penting yang dapat menarik perhatian konsumen.

Persepsi konsumen terhadap suatu produk akan menjadi pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan produk mana yang akan dibeli. Jika persepsi tersebut tinggi maka konsumen akan tertarik untuk membeli produk tersebut. Untuk menghasilkan persepsi yang tepat bagi konsumen, perusahaan hendaknya memperhatikan kriteria evaluasi kualitas produk atau jasa yang ditawarkan. Contoh, dalam membeli rokok, konsumen memperhatikan faktor-faktor seperti rasa, aroma, harga, distribusi produk , iklan serta kemasan.
v  Perilaku Pembelian Pada Konsumen

Ada empat perilaku pembeli seperti yang dikemukakan oleh Henry Assael dan Philip Kotler (1997 : 169) yang membedakan jenis-jenis tersebut berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat pembedaan merek. Dari empat jenis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.      Berdasarkan Pada Tingkat Keterlibatan Pembeli
a.       Perilaku pembeli yang rumit
Konsumen melalui perilaku pembeli yang rumit pada saat mereka memiliki keterlibatan yang tinggi dalam pembelian dan menyadari adanya perbedaan yang jelas antara merek-merek yang ada. Konsumen akan memiliki keterlibatan yang tinggi dalam membeli bila produk yang diinginkan mahal, tidak sering membeli, beresiko dan amat mencerminkan dirinya. Umunya konsumen tidak mengetahui terlalubanyak mengenai kategori produk yang bersangkutan dan harus belajar mengenai barang tersebut. Pembeli ini akan melalui proses belajar yang ditandai dengan mengembangkan kepercayaan terhadap produk, kemudahan sikap akhirnya membuat pilihan pembeli yang sudah dipikirkan.

b.      Perilaku membeli untuk mengurani ketidakcocokan
Kadang-kadang konsumen yang sangat telihat dalam pembelian melihat hanya sedikit perbedaan antara merek-merek yang ada. Keterlibatan yang mendalam disebabkan oleh kenyataan bahwa pembelian itu mahal, tidak sering dilakukan dan beresiko. Dalam kasus ini pembeli melihat-lihat untuk mempelajari apa yang tersedia, tetapi akan membeli cepat karena perbedaan tidak terlihat. Pembeli mungkin akan menanggapi terutama harga yang baik atau kemudahan membeli. Setelah pembelian, pembeli mungkin mengalami ketidakcocokan yang timbul akibat menyadari cirri-ciri tertentu yang mungkin kurang menyenangkan, konsumen akan menjadi dewasa karena lebih banyak informasi yang dapat membenarkan keputusan memebelinya untuk mengurangi ketidakcocokan.

2.      Berdasarkan Pada Tingkat Pembedaan Merek
a.       Perilaku membeli berdasarkan ketidakcocokan
Banyak produk dibeli dibawah kondisi tingkat keterlibatan yang rendah dan tidak terdapatnya perbedaan yang jelas antara merek-merek yang ada. Konsumen dalam kasus ini tidaklah melalui urutan kepercayaan / sikap / perilaku yang normal. Konsumen tidaklah mencari secara ektensif mengenai informasi merek-merek yang ada, mengevaluasi karakteristiknya dan membuat pertimbangan yang hati-hati mengenai merek mana yang akan dibeli. Konsumen adalah penerima informasi yang positif pada saat mereka melihat iklan. Konsumen tidak membentuk sikap yang kuat terhadap merek tetapi memilihnya berdasarkan kebiasaan. Setelah membeli bahkan mereka mungkin tidak mengevaluasi terhdap merek yang mereka pilih sehingga proses membeli : kepercayaan merek yang dibentuk oleh proses belajar yang pasif diikuti perilaku membeli yang mungkin disertai evaluasi.
b.      Perilaku membeli yang mencari keragaman
Situasi membeli ditandai dengan keterlibatan konsumen yang rendah namun terdapat perbedaan merek yang jelas. Konsumen sering terlihat melakukan banyak pergantian merek itu, karena bertujuan mencari keragaman da ketidakpuasan. Pemimpin pasar dan merek-merek minor dalam jenis produk ini memiliki strategi pemasaran yang berbeda. Pemimpin pasar akan berusaha mendorong perilaku pembelian karena kebiasaan dengan mendominasi rak-rak penjualan menghindari kekurangan persedian dan sering mensponsori iklan untuk meningkatkan konsumen.
Perusahaan penantang akan mendorong pencari variasi dengan menawarkan harga yang lebih rendah, kupon gratis dan iklan yang menyajikan untuk mencoba sesuatu hal yang baru.



SUMBER :


Kotler, Philip dan Keller, Kevin. 2009. Manajemen Pemasaran. Penerbit : PT. Indeks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar